Sepertinya hujan hari ini belum datang, tapi mendungnya sudah kerasa dari tadi pagi. Untungnya siang ini cuacanya cukup panas untuk berjemur. Nggak ada perasaan apapun, tapi hati kecil berkata bahwa hari ini adalah hari "spesial" (tapi nggak mesti pake telur loh, emang kalian pikir martabak atau STMJ gitu???!!!). Ketika aku lihat laptop kemarin, kayaknya nggak ada apa-apa, tapi beda halnya saat aku lihat laptop setelah sms dari temen. Aku bener-bener kayak disambar petir (tapi bedanya aku nggak gosong, masak ada kesambar petir di hari siang bolong, dasar petir salah alamat). Oke, dia bukan siapa-siapa, tapi rasanya aku harus ikut menahan rasa sakit ini.
Beberapa bulan yang lalu aku ada perasaan pengen banget ketemu sama kamu gimanapun caranya, tapi nggak kesampaian (coz aku males keluar). Selain itu, emangnya aku sapamu, kok berani-beraninya ketemuan sama kamu (pacar bukan, sahabat bukan, keluarga juga bukan, just acquaintance). Cuman bedanya aku "lumayan deket sama kamu" untuk ukuran your acquaintance.
Setelah penantian panjang untuk mendung yang nggak kunjung cerah, turunlah gerimis yang panas dalam darah, tanda-tanda hari paling nggak-beres-di-dunia. Tapi harus diakhiri dengan senyuman yang ditarik keatas dengan bibir bagian bawah yang gemetar (emang abis nyium kodok apa??? jijik deh) dan lidah yang terasa ngilu (kayaknya abis dicokot psikopat deh, kayak yang di RUMAH DARA). Tapi aku nggak bisa berkata apa-apa untuk meratapinya dan menyesalinya. Sudah terlambat 1 bulan + 2 hari untuk sekedar mengucapkan kata "hai". Kata itu sudah nggak bermakna lagi bagi kita atau siapapun yang mendengarnya, urusanmu sudah selesai tetapi tidak denganku yang menanggung beban berat ini (maklum abis jadi kuli panggul di pabrik).
Aku sudah mendengar perkataan temanku tadi, dan masih terngiang dikepalaku tentang hal tsb. Aku bingung harus gimana dengan hasilnya. Jika boleh mengulang ujian kemarin, aku ingin mengulangnya dengan sungguh-sungguh dan mengerjakannya menggunakan hati dan otakku yang masih aku miliki (makanya kalau ngerjain ulangan pakai otak yang di kepala, jangan di dengkul). Sekarang aku benar-benar nggak paham dengan goresan yang aku buat sendiri di atas tanahmu.
Sederas apapun darah mengalir, tetap nggak berarti apa-apa bagi kita terutama bagimu. Kamu sudah pergi meninggalkanku tanpa memberiku kesempatan melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Kita benar-benar sesulit seseorang mencari sebiji beras diantara banyaknya biji yang bertebaran dipasar (dasar pemulung, beli dong). Aku benar-benar menyesal tidak mengiyakan perasaanku dan pertanda yang datang saat aku melihat fotomu. Dan sekarang hanya ada aku dan teman-teman yang berdiri disini, dilihat olehmu dari kejauhan dengan senyum jailmu yang selalu membuat kami tertawa. Karenamu juga, aku tahu bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan saat aku harus berhadapan denganmu (emang kamu monster ya!!!).
Sederas apapun darah mengalir, tetap nggak berarti apa-apa bagi kita terutama bagimu. Kamu sudah pergi meninggalkanku tanpa memberiku kesempatan melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Kita benar-benar sesulit seseorang mencari sebiji beras diantara banyaknya biji yang bertebaran dipasar (dasar pemulung, beli dong). Aku benar-benar menyesal tidak mengiyakan perasaanku dan pertanda yang datang saat aku melihat fotomu. Dan sekarang hanya ada aku dan teman-teman yang berdiri disini, dilihat olehmu dari kejauhan dengan senyum jailmu yang selalu membuat kami tertawa. Karenamu juga, aku tahu bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan saat aku harus berhadapan denganmu (emang kamu monster ya!!!).
Semoga kamu bahagia dengan keadaanmu sekarang, wish you are here to listen what I want to say "I'm very regret can't saw you, because that is our last time".