Selasa, 21 April 2015
Selasa, 16 Desember 2014
Sabtu, 13 Desember 2014
Rabu, 11 Juni 2014
This Topic
Aku tahu kita memang baru kenal, mungkin sekitar 35 jam yang lalu. Aku suka berbicara denganmu yang notabene berbeda pandangan dengan kami. Kamu punya hidup yang sempurna, tapi tidak dengan kami. Suasana dan orang sekitar sangat mendukung apa yang kamu inginkan, tidak seperti kami yang harus memasang benteng pertahanan agar kami tetap aman. Kamu bisa bepergian kemanapun kamu mau tanpa beban, tapi kami harus ijin dan membuat ijin itu tidak segampang kamu.
Kamu sempurna, kamu mempunyai segalanya. Fisik, mental, keluarga, teman, dan yang lainnya yang kamu miliki begitu sempurna. Berbicara denganmu seperti berbicara pada orang yang mengagumi satu sama lain. Kamu bagaikan "seorang teman" yang diinginkan setiap orang disini, termasuk aku. Aku tidak menyangkal bahwa kamu akan diterima disini, kami selalu menerima orang-orang sepertimu.
Awalnya aku senang berbicara denganmu. Kita melakukan banyak sekali percakapan melebihi dugaanku bahwa kita akan berlanjut sampai kemarin. Awalnya saat kamu bertanya tentang hal tentang hal tersebut, aku tersipu dan mencoba untuk tetap berpikiran positif. Kemudian kamu mengutaran maksudmu dengan tujuan pertemanan. Aku menyanggupinya. Tapi kelanjutan pembicaraan kita sudah diluar konteks antara kamu dan aku. Kamu menyinggungnya yang bagi kami hal tersebut belum saatnya dibicarakan. Bagimu hal tersebut lumrah karena semua lingkungan mendukungmu. Tapi dilingkungan kami membicarakan hal tersebut dianggap aneh jika kita tidak dalam proses melakukannya.
Semakin kesini pembicaraan kita semakin aneh, aku seudah mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Bagaimanapun aku mencoba meredam perasaanku, tapi tetap saja hatiku mulai gelisah nggak karuan. Aku ingin menghentikan pembicaraan ini dan menggantinya dengan topik lain, tapi kamu hanya mengalihkannya sesaat. Sesaat kemudian kamu memulainya lagi dengan konteks pembicaraan yang lebih dalam.
Karena pembicaraan tersebut berlanjut, tiba-tiba saja perutku rasanya sakit dan aku ingin muntah. Tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu karena kamu sedang bersemangat membicarakan hal tersebut.
Semakin kesini pembicaraan kita semakin aneh, aku seudah mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Bagaimanapun aku mencoba meredam perasaanku, tapi tetap saja hatiku mulai gelisah nggak karuan. Aku ingin menghentikan pembicaraan ini dan menggantinya dengan topik lain, tapi kamu hanya mengalihkannya sesaat. Sesaat kemudian kamu memulainya lagi dengan konteks pembicaraan yang lebih dalam.
Karena pembicaraan tersebut berlanjut, tiba-tiba saja perutku rasanya sakit dan aku ingin muntah. Tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu karena kamu sedang bersemangat membicarakan hal tersebut.
Mungkin karena itulah kamu dan kami berbeda. Kamu disana(your comfort zone) dan kami disni membangun "comfort zone" kami sendiri dengan pertahanan yang bagi sebagian orang bisa ditembus. Tapi aku termasuk orang yang membangun benteng pertahanan yang cukup kuat.
Aku ingin menyudahi pembicaraan ini yang berdampak bahwa kita juga harus menyudahi semuanya. Maafkan aku, kamu tidak bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi hanya untuk saat ini, mungkin jika kamu mencari yang lain yang bukan seperti aku, kamu akan cocok berbicara dengannya tentang hal tersebut.
Aku tahu kita semua berbeda, tapi kamu dan aku memang sangat berbeda jauh dilihat dari segi manapun. Aku tahu kamu hanya ingin "berteman", tapi sepertinya aku bukan teman yang baik dan cocok untuk mebicarakan pembicaraan tersebut.
Maafkan aku -JT-
Aku ingin menyudahi pembicaraan ini yang berdampak bahwa kita juga harus menyudahi semuanya. Maafkan aku, kamu tidak bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi hanya untuk saat ini, mungkin jika kamu mencari yang lain yang bukan seperti aku, kamu akan cocok berbicara dengannya tentang hal tersebut.
Aku tahu kita semua berbeda, tapi kamu dan aku memang sangat berbeda jauh dilihat dari segi manapun. Aku tahu kamu hanya ingin "berteman", tapi sepertinya aku bukan teman yang baik dan cocok untuk mebicarakan pembicaraan tersebut.
Maafkan aku -JT-
Senin, 05 Mei 2014
Senin, 24 Maret 2014
Langganan:
Postingan (Atom)